Sabtu, 14 Maret 2015

Makalah Perkembangan Kemandirian Peserta Didik

PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN
MATA KULIAH: PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Dra. Yuline, M.Pd

Oleh:
Chandra Andrean (NIM: F1022141062)
Fendy Piktoria (NIM: F10221410)
Siti Febry wahyuni (NIM: F1022141060)
Kelas B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014


Abstrak
Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai seberapa pentingnya kemandirian bagi peserta didik. Bagaimana peserta didik menyikapi era globalisasi yang sedang terjadi dan menitik beratkan pada perkembangan teknologi. Hal ini akan berdampak pada tingkat ke- kompleksitas-an suatu kehidupan. Dalam makalah ini pulalah, akan dibahas fenomena apa saja yang terjadi dikalangan peserta didik yang berkaitan dengan kemandirian. Apakah pengertian kemandirian itu sendiri? Berdasarkan suku kata kemandirian adalah kata berimbuhan yang memiliki awalan ke dan akhiran an dan memiliki kata dasar diri. Kemudian kata ini berkembang dengan penelitian dan bantuan para ahli hingga akhirnya berdampak bagi pengembangan karakter suatu individu. Dalam makalah ini kami juga akan membahas beberapa teori yang membahas kemandirian. Salah satu ahli yang mengembangkan teori mengenai kemandirian adalah Emile Durkheim, menurut Emile Durkheim ada dua fakrot yang merupakan prasyarat yang menjadi perkembangan kemandiran itu sendiri.
Selanjutnya akan dibahas pula mengenai tingkatan dan karakteristik dari kemandirian itu sendiri. Hal ini dikemukakan oleh Lovinger yang membagi tingkat kemandirian menjadi lima tingkatan. Lima tingkatan ini sendiri juga memiliki ciri-ciri yang akan memperjelas berada di tingkat manakah seorang peserta didik ataupun sueorang individu. Menurut Lovinger, Kemandirian iiitu sendiri kompleksitas dari psikologis seorang individu. Disamping hal diatas, ada pula definisi tersendiri mengenai tingkstsn kemandirian dalam diri seorang remaja. Hal ini dibagi atas tingkat sadar diri, tingkat seksama, tingkat individualistik dan tingkat mandiri iru sendiri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kemandirian seorang peserta didik maupun remaja. Satu diantaranya adalah genetis atau keturunan dari orang tua.












Kata Pengantar
Puji syukur kami ucapkan kepada kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada dosen perkembangan peserta didik yaitu Ibu Dra. Yuline, M.Pd yang telah membimbing kami agar dapat mengerti bagaimana cara menyusun makalah mengenai kemandirian peserta didik.
            Makalah ini disusun agar dapat memperluas pemikiran mengenai kemandirian peserta didik maupun remaja. Betapa pentingnya dan bagaimana upaya peserta didik maupun remaja membangun kemandirian dalam dirinya.  Semoga makalah kami dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, dan mudah-mudahan juga dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca, sebagaimana pengalaman dan ilmu yang berharga yang telah kami peroleh sebagai penulis makalah ini.  Kami sebagai penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan yang ada didalam penulisan makalah ini.

Terima kasih.


Penulis

















A.    Pentingnya Kemandirian bagi Peserta Didik
Globalisasi membawa segala banyak perubahan bersama dengan kehadirannya didunia. Hal ini pulalah yang akhirnya berdampak dengan segala keuntungan dan kerugian yang dibawa oleh globalisasi itu sendiri. Namun, dalam hal ini kami tidak akan membahas apakah itu globalisasi. Kami akan membahas bagaimana menghadapi kompleksitas yang tercipta sebagai akibat dari globalisasi. Di era yang menitikberatkan pada perkembangan teknologi, kekuatan atau keteguhan diri sangat dibutuhkan agar dapat membentengi diri dari hal-hal dan pengaruh negatif yang ditimbulkan era globalisasi. Para peserta didik maupun seorang individu tersebut membentengi diri dengan cara menyeleksi dan mencocokkan budaya yang masuk dan budaya yang dimiliki. Dalam hal ini, dibutuhkan pemahaman nilai dan norma yang baik agar dapat sesuai tatanan nilai yang sudah ditetapkan dari awal. Kurangnya pemahaman seorang peserta didik maupun seorang individu akan mengakibatkan kesalahan dalam memahami kebudayaan yang masuk maupun yang sedang berkembang. Hal ini juga yang mendasari fenomena-fenomena yang terjadi diantara para peserta didik maupun remaja seperti perkelahian, penyalahgunaan obat-obatan dan alcohol, serta yang berada dalam lingkungan sekolah seperti menyontek, membolos, dan lain sebagainya.
Perilaku-perilaku diatas merupakan perilaku reaktif atas lingkungan maupun pola pikir yang dialami oleh peserta didik pada remaja. Perilaku reaktif dapat menimbulkan efek yang akan mempengaruhi kehidupan orang tersebut dimasa yang akan datang. Apakah peserta didik maupun remaja tersebut akan sukses atau tidak. Mengingat kehidupan yang akan semakin kompleks dan penuh tantangan, menurut Tilaar (1987:2) tantangan kompleksitas itu sendiri hanya diberi dua pilihan, diantaranya adalah berpasrah kepada nasib atau berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Pendidikan disini memiliki misi untuk membuat peserta didik maupun remaja memilih pilihan kedua yaitu mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi segala tantangan dan kemungkinan yang akan terjadi. Dengan demikian, peserta didik maupun remaja akan memiliki masa depan yang lebih baik dari sebelumnya. Mengapa masa remaja yang lebih baik untuk menanamkan nilai kemandirian? karena pada usia inilah, remaja berada dipuncak perkembangan dan pertumbuhannya baik secara psikis maupun psikologis. Oleh karena itu, masa remaja dianggap sangat potensial dan masa remaja merupakan titik awal fase kehidupan untuk menentukan kesuksesan. Seperti apakah perkembangan potensial yang dimiliki masa remaja itu? Perkembangan potensial masa remaja itu antara lain adalah perkembangan kognitifnya. Dimana kemampuan berpikir sistematisnya dalam menghadapi persoalan-persoalan sudah dapat memiliki abstrak dan hipotesis hingga dapat dikatakan bahwa individu tersebut telah mencapai tahap operasional.
Disamping itu, perkembangan moralnya berada didalam tahap konvensional, yaitu tahapan dimana adanya kesadaran akan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan bagaimana memposisikan diri menjadi pribadi yang sesuai dengan kepribadian yang ideal. Perkembangan fisik pun terjadi pada usia remaja ini dimana perkembangan fisik sangat cepat dan terkadang tidak disadari. Aspek perkembangan inilah yang membuat para ahli beranggapan bahwa pada masa remaja, peserta didik maupun remaja itu harus memfokuskan pada aspek positif dan tidak menyoroti aspek negatif.  Usaha inilah yang akan mempersiapkan dan membantu peserta didik maupun remaja untuk menghadapi kompleksitan dalam dunia dengan era globalisasi. Apakah usaha itu? Usaha itu bernama kemandirian. Demi pelaksanaan kemandirian yang sukses dan tepat sasaran. Maka kami pun akan menuliskan gejala-gejala negatif yang dapat menjauhkan seorang individu dari kemandirian. Gejala-gejal tersebut adalah:
1.      Adanya ketergantungan dari luar yang bukan berasal dari keikhlasan dan niat dari sendiri. Hal ini akan menyebabkan  perilaku formalisitk dan ritualistik serta tidak konsisiten. Situasi inilah yang mengakibatkan terhambatnya etos kerja dan kehidupan yang mapan yang menjadi salah satu ciri dari kualitas sumberdaya dan kemandirian manusia.
2.      Sikap tidak peduli terhadap lingkungannya, sikap ini merupakan sikap impulsif  yang menunjukan tingkat kemandirian yang masih rendah. Mengapa? Karena indivu mandiri itu sendiri adalah pribadi yang bertrasenden dengan lingkungannya. Dimana individu tersebut mampu membantu lingkungannya, hingga tercipta lingkungan yang sesuai dengan tujuan bersama.
3.      Kurangnya tingkat kemandirian mengakibatkan suatu individu menyebabkan adanya hidup konformistik tanpa pemahaman serta kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Salah satu contoh dari hal ini adalah mitos. Mitos merupakan suatu pemikiran yang hanya berkembang di suatu masyarakat tertentu dan berkembang dari mulut ke mulut. Pada dasarnya mitos merupakan suatu kepercayaan yang berasal turun temurun. Hal ini sendiri merupakan petunjuk adanya ketidakjujuran berpikir serta teindakan kemandirian yang masih rendah.
Demikianlah gejala-gejala yang menjadi kendala utama untuk mempersiapakan peserta didik maupun remaja yang tangguh dan mandiri dalam menghadapi kompleksitas dan tantangan yang akan datang. Perubahan tata nilai kemandirian tidak dapat dianggap remeh karena bagaimana pun juga kemandirian adalah syarat peningkatan kualitas sumber daya manusia.

B.     Pengertian Kemandirian
Kemandirian memiliki asal kata “Diri” yang selanjutnya memiliki awalan “ke” dan akhiran “an” kemudian membentuk satu kata benda yaitu kemandirian. Kemandirian itu sendiri berasal dari kata mandiri. Mandiri adalah keadaan dimana kita dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kemandirian meliputi perilaku yang mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan, atau masalah, mempunyai percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Maka, dapat disimpulkan sementara bahwa kemandirian adalah kondisi dimana kita mempercayai diri dan yakin akan kemampuan yang kita miliki.
Menurut Steinberg (1995) istilah kemandirian disebut sebagai independence dan autonomy yang disejajarkan secara silih berganti (interchangeable) sesuai dengan konsep istilah tersebut. Berdasarkan konsep independence, Steinberg menjelaskan bahwa anak yang sudah mencapai independence ia mampu menjalankan atau melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain terutama orang tua. contohnya, ketika anak ingin buang air kecil ia langsung pergi ke toilet dan tidak merengek-rengek meminta dibantu membuka celana atau minta dicarikan tempat untuk buang air kecil. Kemandirian yang mengarah kepada konsep independence ini merupakan bagian dari perkembangan autonomy selama masa remaja, hanya saja autonomy mencakup dimensi emosional, sikap dan nilai.
Menurut Hanna Wijaya (1986), autonomy dan kemandirian adalah dua konsep yang berbeda. Menurut Hanna Wijaya (1986) autonomy didefinisikan sebagai individu yang otonom, yaitu individu yang mandiri, tidak mengandalkan bantuan orang lain yang kompeten dan bebas bertindak. Sedangkan kemandirian merujuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan diri untuk menyelesaikan persoalan tanpa bantuan khusus dari orang lain, keengganan untuk di kontrol orang lain, dapat melakukan sendiri kegiatan dan menyelesaikan sendiri masalahnya.
Menurut Lerner (1976) konsep kemandirian (autonomy) mencakup kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung terhadap orang lain, tidak terpengaruh oleh lingkungan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri. Konsep kemandirian ini hampir senada dengan yang diajukan Watson dan Lindgren (1973) yang menyatakan bahwa kemandirian (autonomy) oalah kebebasan untuk mengambil inisiatif mengatasi hambatan, gigih dalam usaha, dan melakukan sendiri segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan untuk menguasai, mengatur, atau mengelola diri sendiri. Remaja yang memiliki kemandirian ditandai oleh kemampuannya untuk tidak tergantung secara emosional terhadap orang lain terutama terhadap orang tua, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan konsekuen terhadap keputusan tersebut, serta kemampuan menggunakan (memiliki) seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting.

  1. Tahapan Perkembangan Kemandirian
Kemandirian semakin berkembang pada setiap masa perkembangan seiring pertambahan usia dan pertambahan kemampuan. Perkembangan kemandirian tersebut diidentifikasikan pada usia 0 – 2 tahun; usia 2 – 6 tahun; usia 6 – 12 tahun; usia 12 – 15 tahun dan pada usia 15 – 18 tahun.
1.      Usia 0 sampai 2 tahun. Sampai usia dua tahun, anak masih dalam tahap mengenal lingkungannya, mengembangkan gerak-gerik fisik dan memulai proses berbicara. Pada tahap ini anak masih sangat bergantung pada orang tua atau orang dewasa lainnya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
2.      Usia 2 sampai 6 tahun. Pada masa ini anak mulai belajar untuk menajdi manusia sosial dan belajar bergaul.Mereka mengembangkan otonominya seiring dengan bertambahnya berbagai kemampuan dan keterampilan seperti keterampilan berlari, memegang, melompat, memasang dan berkata-kata.Pada masa ini pula anak mulai dikenalkan pada toilet training, yaitu melatih anak dalam buang air kecil atau air besar.
3.      Usia 6 sampai 12 tahun. Pada masa ini anak belajar untuk menjalankan kehidupan sehari-harinya secara mandiri dan bertanggung jawab.Pada masa ini anak belajar di jenjang sekolah dasar.Beban pelajaran merupakan tuntutan agar anak belajar bertanggung jawab dan mandiri.
4.      Usia 12 sampai 15 tahun. Pada usia ini anak menempuh pendidikan di tingkat menengah pertama (SMP). Masa ini merupakan masa remaja awal di mana mereka sedang mengembangkan jati diri dan melalui proses pencarian identitas diri. Sehubungan dengan itu pula rasa tanggung jawab dan kemandirian mengalami proses pertumbuhan.
5.      Usia 15 sampai 18 tahun. Pada usia ini anak sekolah di tingkat SMA. Mereka sedang mempersiapkan diri menuju proses pendewasaan diri. Setelah melewati masa pendidikan dasar dan menengahnya mereka akan melangkah menuju dunia Perguruan Tinggi atau meniti karier, atau justru menikah. Banyak sekali pilihan bagi mereka. Pada masa ini mereka diharapkan dapat membuat sendiri pilihan yang sesuai baginya  tanpa tergantung pada orangtuanya. Pada masa ini orangtua hanya perlu mengarahkan dan membimbing anak untuk mempersiapkan diri dalam meniti perjalanan menuju masa depan.

  1. Bentuk-bentuk Kemandirian
Robert Havighurst (1992) membedakan kemandirian atas tiga bentuk kemandirian, yaitu :
Aspek intelektual, yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.Anak percaya pada kemampuannya sendiri dalam memecahkan masalah, memiliki inisiatif, bersikap kompeten, kreatif, dapat mengambil keputusan sendiri dalam bentuk kemampuan memilih dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Aspek sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung pada aksi orang lain. Anak mampu secara aktif untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Di dalam berinteraksi ini anak mempunyai rasa percaya diri sehingga mampu berpisah dari kelekatan dengan orang tua sehingga anak akan merasa aman meskipun tidak ada orang tua disekitarnya.
            Aspek emosi, yaitu kemampuan mengontrol emosi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi pada orang lain. Anak mampu mengelola emosinya dan mempunyai kontrol diri yang baik.
            Aspek ekonomi, yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain.  Maksudnya bukan berarti anak mampu untuk menghidupi dirinya sendiri tetapi anak mampu secara sederhana untuk mengelola ekonominya sendiri. Contohnya anak mampu untuk mengelola uang saku yang diberikan orang tua, mampu memutuskan apa yang sebaiknya dibeli dan tidak.

  1. Ciri-Ciri Kemandirian
1.      Percaya diri; ini berarti dia percaya bahwa dia mampu mewujudkan keinginannya dengan usaha dan kekuatan yang dimilikinya. Percaya diri inilah yang menjadi sumber kemandirian.
2.      Mampu berinisiatif; orang yang mandiri mampu berinisiatif yaitu bertindak dengan keinginannya sendiri tanpa harus menunggu instruksi orang lain.
3.      Mampu mengatasi masalah atau hambatan; sebagai orang yang mampu berinisiatif orang yang mandiri mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dengan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.
4.      Mampu mengerjakan tugas pribadi; berarti dia dapat mengerjakan tugas-tuigas pribadinya tanpa bantuan orang lain.
5.      Mampu mempertahankan prinsip yang dimiliki dan diyakini.
6.      Mampu mengambil keputusan; ketika dihadapkan pada bergagai pilihan dia dapat menentukan pilihan yang sesuai bagi dirinya sendiri tanpa tergantung pada orang lain.
7.      Hemat; dia dapat menggunakan uang yang dimiliki sesuai dengan kebutuhannya.
8.      Mampu melaksanakan transaksi ekonomi; orang yang mandiri mengetahui cara melakukan transaksi ekonomi dan dapat melakukannya.
9.      Mempunyai perencanaan karier di masa depan, termasuk mempunyai cita-cita profesi; yaitu mempunyai pilihan profesi/cita-cita yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
10.  Bebas secara emosi dari orang tua; tidak tergantung pada orang tua atau orang dewasa lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhan emosi.
11.  Mempunyai kehendak yang kuat; orang yang mandiri mempunyai tekad yang kuat dan tidak mudah berputus asa dalam upaya mewujudkan keinginannya.
12.  Puas dengan keputusan sendiri; orang yang mandiri mempertimbangkan manfaat maupun kerugian setiap keputusan yang diambilnya dan dia merasa puas dengan keputusannya sendiri.
13.  Menghargai waktu; orang yang mandiri akan selalu memanfaatkan waktu dengan baik, mengisi waktunya dengan kegiatan yang berguna.
14.  Bertanggung jawab; orang yang mandiri akan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya.
15.  Mampu menghindari pengaruh negatif pergaulan.
16.  Mampu menerima kritik.
17.  Mampu menerima perbedaan pendapat.
18.  Mempunyai hubungan baik dengan orang lain.




  1. Tingkatan dan Karakteristik Kemandirian
Sebagai suatu dimensi psikologis yang kompleks, kemandirian dalam perkembangannya memiliki tingkatan-tingkatan. Perkembangan kemandirian seseorang juga berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkatan perkembangan kemandirian tersebut. Lovinger mengemukakan tingkatan kemandirian beserta ciri-cirinya sebagai berikut:
1.      Tingkatan pertama, adalah tingkat impulsif dan melindungi diri. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a.       Peduli terhadap control dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain.
b.      Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik;
c.       Berpikir tidak logis dan tertegun pada cara berpikir tertentu (stereotype ).
d.      Cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum game.
e.       Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.

2.      Tingkatan kedua, adalah tingkat konformistik. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a.       Peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan social.
b.      Cenderung berpikir stereotype dan klise.
c.       Peduli akan konformitas terhadap aturan ekternal.
d.      Bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian
e.       Menyamakan diri dalam ekpresi emosi dan kurangnya introspeksi
f.       Perbedaan kelompok didasarkan atas cirri-ciri eksternal
g.      Takut tidak diterima kelompok
h.      Tidak sensitif terhadap keindividualan
i.        Merasa berdosa jika melanggar.

3.      Tingkatan ketiga, adalah tingkat sadar diri. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a.       Mampu berpikir alternative.
b.      Melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi
c.       Peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada
d.      Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah
e.       Memikirkan cara hidup
f.       Penyesuaian terhadap situasi dan peranan

4.      Tingkatan keempat, adalah tingkat saksama (conscientious). Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a.       Bertindak atas dasar nilai-nilai internal.
b.      Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan
c.       Mampu melihat keragaman emosi,motif, dan perspektif diri sendiri mau-pun orang lain.
d.      Sadar akan tanggung jawab.
e.       Mampu melakukan kritik dan penilaian diri.
f.       Peduli akan hubungan mutualistik.
g.      Memiliki tujuan jangka panjang.
h.      Cenderung melihat peristiwa dalam konteks social.
i.        Berpikir lebih kompleks dan atas dasar pola analitis.


5.      Tingkatan kelima, adalah tingkat individualistis. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a.       Peningkatan kesadaran individualitas.
b.      Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan keter-gantungan.
c.       Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
d.      Mengenal eksistensi perbedaan individual.
e.       Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan.
f.       membedakan kehidupan internal dengan kehidupan luar dirinya.
g.      Mengenal kompleksitas diri.
h.      Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.

6.      Tingkatan keenam, adalah tingkat mandiri. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a.       Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan.
b.      Cenderung besikap realistik dan objektif terhadap diri sendiri maupun orang lain.
c.       Peduli terhadap pemahaman abstrak, seperti keadilan social.
d.      Mampu mengintregrasikan nilai-nilai yang bertentangan.
e.       Toleran terhadap ambiguitas.
f.       Peduli akan pemenuhan diri ( self-fulfilment ).
g.      Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal.
h.      Responsif terhadap kemandirian orang lain.
i.        Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain.
j.        Mampu mengekpresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.



  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Sebagaimana aspek-aspek psikologis lainnya, maka kemandirian juga bukanlah semata-semata merupakan pembawaan yang melekat pada individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimilikinya sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuannya. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian,yaitu:
1.      Gen atau keturunan orang tua.
Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.
2.      Umur
Anak mulai menampakkan perilaku mandiri pada sekitar usia dua sampai tiga tahun. Kemandirian pada usia kanak-kanak ditandai dengan adanya kemampuan anak untuk dapat makan sendiri, berpakaian sendiri dan ke kamar mandi sendiri. Anak nantinya akan tumbuh menjadi remaja dimana ketika usia remaja anak berusaha untuk lepas dari pengawasan orang tua dan mulai belajar memutuskan sendiri apa yang baik untuknya. Jadi dengan bertambahnya umur maka seseorang akan semakin tidak tergantung kepada orang lain dan mampu secara mandiri menentukan arah hidupnya sendiri.
3.      Jenis kelamin
Perbedaan perlakuan yang diberikan oleh orang tua menyebabkan perbedaan terbentuknya kemandirian antara remaja putra dengan remaja putri.Perbedaan kemandirian remaja putra dan putri juga disebabkan karena adanya perbedaan stereotipe bahwa remaja putra dan remaja putri memiliki peranan yang berbeda di masyarakat.Menurut penelitan Kimmel (dalam Soetjipto, 1989) menunjukkan bahwa masyarakat menganggap remaja putri terlihat kurang mandiri daripada remaja putra karena remaja putri lebih dipandang lebih bersikap kurang percaya diri, tidak ambisius dan sangat tergantung.Berbeda dengan remaja putra yang dipandang lebih dominan, aktif, lebih percaya diri dan ambisius.Jadi perbedaan perlakuan dan stereotipe antara peran pria dan wanita di dalam kehidupan bermasyarakat membuat perbedaan dalam perkembangan kemandirian antara anak laki-laki dan perempuan.
4.   Pola asuh orang tua.
Cara orang tua yang mengasuh atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata “jangan“ kepada anak tanpa disertai penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak. Demikian juga, orang tua yang cenderung sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian anak.
5.      Sistem pendidikan di sekolah.
Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengem-bangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Demikian juga, proses pendidikan yang banyak menekankan pentingnya pemberian sanksi atau hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dam penciptaan kompetisi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian anak.
6.      Sistem kehidupan di masyarakat.
Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi anak dalam kegiatan produtif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi anak dalam bentuk berba-gai kegiatan, dan tidak terlalu hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian anak.

  1. Upaya Pengembangan Kemandirian Peserta Didik dan Implikasinya Bagi Pendidikan
1.      Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, yang memungkinkan anak merasa dihargai. Ini dapat diwujudkan lewat saling menghargai antar anggota keluarga, dan melibatkan remaja dalam pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah keluarga.
2.      Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai kegiatan sekolah. Dalam hal ini sekolah dapat memfasilitasi lewat pemilihan ketua OSIS dan memfasilatasi remaja untukikut organisasi yang tentunya dapat mendukung perkembangan kemandiriannya.
3.      Memberi kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan, mendorong rasa ingin tahu mereka. Dapat terwujud lewat adanya jaminan rasa aman dan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan serta adanya aturan yang cenderung tidak mengancam bila ditaati.
4.      Penerimaan positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lain.contoh dalam hal ini adalah menerima segala kekurangan dan kelebihan dari remaja, menghargai setiap ekspresi mereka yang sebenarnya hasilnya kurang memuaskan. Serata tidak mudah mencela hasil karyanya itu.
5.      Menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak. Ini dapat terwujud dalam hal membangun interaksi secara akrab tetapi tetap saling menghargai, menambah frekuensi interaksi dan tidak bersikap dingin terhadap remaja serta membangun suasana humor dan komunikasi ringan dengan remaja.


DAFTAR PUSAKA
1.      Asorori, M.2008.Perkembangan Peserta Didik.Pontianak:Bhinneka Media
  1. http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-kemandirian-peserta-didik.html
  2. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/197102191998021-NANDANG_BUDIMAN/PERKEMBANGAN_KEMANDIRIAN.pdf




0 komentar:

Posting Komentar