PERKEMBANGAN
KEMANDIRIAN
MATA KULIAH:
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Dra. Yuline,
M.Pd
Oleh:
Chandra Andrean (NIM: F1022141062)
Fendy Piktoria (NIM: F10221410)
Siti Febry wahyuni (NIM: F1022141060)
Kelas B
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
JURUSAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014
Abstrak
Dalam makalah
ini kami akan membahas mengenai seberapa pentingnya kemandirian bagi peserta
didik. Bagaimana peserta didik menyikapi era globalisasi yang sedang terjadi
dan menitik beratkan pada perkembangan teknologi. Hal ini akan berdampak pada
tingkat ke- kompleksitas-an suatu kehidupan. Dalam makalah ini pulalah, akan
dibahas fenomena apa saja yang terjadi dikalangan peserta didik yang berkaitan
dengan kemandirian. Apakah pengertian kemandirian itu sendiri? Berdasarkan suku
kata kemandirian adalah kata berimbuhan yang memiliki awalan ke dan akhiran an
dan memiliki kata dasar diri. Kemudian kata ini berkembang dengan penelitian
dan bantuan para ahli hingga akhirnya berdampak bagi pengembangan karakter
suatu individu. Dalam makalah ini kami juga akan membahas beberapa teori yang
membahas kemandirian. Salah satu ahli yang mengembangkan teori mengenai
kemandirian adalah Emile Durkheim, menurut Emile Durkheim ada dua fakrot yang
merupakan prasyarat yang menjadi perkembangan kemandiran itu sendiri.
Selanjutnya akan
dibahas pula mengenai tingkatan dan karakteristik dari kemandirian itu sendiri.
Hal ini dikemukakan oleh Lovinger yang membagi tingkat kemandirian menjadi lima
tingkatan. Lima tingkatan ini sendiri juga memiliki ciri-ciri yang akan
memperjelas berada di tingkat manakah seorang peserta didik ataupun sueorang
individu. Menurut Lovinger, Kemandirian iiitu sendiri kompleksitas dari
psikologis seorang individu. Disamping hal diatas, ada pula definisi tersendiri
mengenai tingkstsn kemandirian dalam diri seorang remaja. Hal ini dibagi atas
tingkat sadar diri, tingkat seksama, tingkat individualistik dan tingkat
mandiri iru sendiri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kemandirian
seorang peserta didik maupun remaja. Satu diantaranya adalah genetis atau
keturunan dari orang tua.
Kata Pengantar
Puji syukur kami ucapkan kepada
kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi
kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Tidak lupa juga kami ucapkan
terima kasih kepada dosen perkembangan peserta didik yaitu Ibu Dra. Yuline,
M.Pd yang telah membimbing kami agar dapat mengerti bagaimana cara menyusun makalah
mengenai kemandirian peserta didik.
Makalah ini disusun agar dapat
memperluas pemikiran mengenai kemandirian peserta didik maupun remaja. Betapa
pentingnya dan bagaimana upaya peserta didik maupun remaja membangun
kemandirian dalam dirinya. Semoga makalah
kami dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, dan mudah-mudahan juga
dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca, sebagaimana pengalaman
dan ilmu yang berharga yang telah kami peroleh sebagai penulis makalah ini. Kami sebagai penulis memohon maaf yang
sebesar-besarnya atas segala kekurangan yang ada didalam penulisan makalah ini.
Terima
kasih.
Penulis
A.
Pentingnya
Kemandirian bagi Peserta Didik
Globalisasi membawa segala banyak
perubahan bersama dengan kehadirannya didunia. Hal ini pulalah yang akhirnya
berdampak dengan segala keuntungan dan kerugian yang dibawa oleh globalisasi
itu sendiri. Namun, dalam hal ini kami tidak akan membahas apakah itu
globalisasi. Kami akan membahas bagaimana menghadapi kompleksitas yang tercipta
sebagai akibat dari globalisasi. Di era yang menitikberatkan pada perkembangan
teknologi, kekuatan atau keteguhan diri sangat dibutuhkan agar dapat
membentengi diri dari hal-hal dan pengaruh negatif yang ditimbulkan era
globalisasi. Para peserta didik maupun seorang individu tersebut membentengi
diri dengan cara menyeleksi dan mencocokkan budaya yang masuk dan budaya yang
dimiliki. Dalam hal ini, dibutuhkan pemahaman nilai dan norma yang baik agar
dapat sesuai tatanan nilai yang sudah ditetapkan dari awal. Kurangnya pemahaman
seorang peserta didik maupun seorang individu akan mengakibatkan kesalahan
dalam memahami kebudayaan yang masuk maupun yang sedang berkembang. Hal ini
juga yang mendasari fenomena-fenomena yang terjadi diantara para peserta didik
maupun remaja seperti perkelahian, penyalahgunaan obat-obatan dan alcohol,
serta yang berada dalam lingkungan sekolah seperti menyontek, membolos, dan
lain sebagainya.
Perilaku-perilaku diatas merupakan
perilaku reaktif atas lingkungan maupun pola pikir yang dialami oleh peserta
didik pada remaja. Perilaku reaktif dapat menimbulkan efek yang akan
mempengaruhi kehidupan orang tersebut dimasa yang akan datang. Apakah peserta
didik maupun remaja tersebut akan sukses atau tidak. Mengingat kehidupan yang
akan semakin kompleks dan penuh tantangan, menurut Tilaar (1987:2) tantangan
kompleksitas itu sendiri hanya diberi dua pilihan, diantaranya adalah berpasrah
kepada nasib atau berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Pendidikan disini memiliki misi
untuk membuat peserta didik maupun remaja memilih pilihan kedua yaitu
mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi segala tantangan dan
kemungkinan yang akan terjadi. Dengan demikian, peserta didik maupun remaja
akan memiliki masa depan yang lebih baik dari sebelumnya. Mengapa masa remaja
yang lebih baik untuk menanamkan nilai kemandirian? karena pada usia inilah,
remaja berada dipuncak perkembangan dan pertumbuhannya baik secara psikis
maupun psikologis. Oleh karena itu, masa remaja dianggap sangat potensial dan
masa remaja merupakan titik awal fase kehidupan untuk menentukan kesuksesan.
Seperti apakah perkembangan potensial yang dimiliki masa remaja itu?
Perkembangan potensial masa remaja itu antara lain adalah perkembangan
kognitifnya. Dimana kemampuan berpikir sistematisnya dalam menghadapi
persoalan-persoalan sudah dapat memiliki abstrak dan hipotesis hingga dapat
dikatakan bahwa individu tersebut telah mencapai tahap operasional.
Disamping itu, perkembangan
moralnya berada didalam tahap konvensional, yaitu tahapan dimana adanya
kesadaran akan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan bagaimana
memposisikan diri menjadi pribadi yang sesuai dengan kepribadian yang ideal.
Perkembangan fisik pun terjadi pada usia remaja ini dimana perkembangan fisik
sangat cepat dan terkadang tidak disadari. Aspek perkembangan inilah yang
membuat para ahli beranggapan bahwa pada masa remaja, peserta didik maupun
remaja itu harus memfokuskan pada aspek positif dan tidak menyoroti aspek
negatif. Usaha inilah yang akan
mempersiapkan dan membantu peserta didik maupun remaja untuk menghadapi
kompleksitan dalam dunia dengan era globalisasi. Apakah usaha itu? Usaha itu
bernama kemandirian. Demi pelaksanaan kemandirian yang sukses dan tepat
sasaran. Maka kami pun akan menuliskan gejala-gejala negatif yang dapat
menjauhkan seorang individu dari kemandirian. Gejala-gejal tersebut adalah:
1. Adanya
ketergantungan dari luar yang bukan berasal dari keikhlasan dan niat dari
sendiri. Hal ini akan menyebabkan
perilaku formalisitk dan ritualistik serta tidak konsisiten. Situasi
inilah yang mengakibatkan terhambatnya etos kerja dan kehidupan yang mapan yang
menjadi salah satu ciri dari kualitas sumberdaya dan kemandirian manusia.
2. Sikap
tidak peduli terhadap lingkungannya, sikap ini merupakan sikap impulsif yang menunjukan tingkat kemandirian yang
masih rendah. Mengapa? Karena indivu mandiri itu sendiri adalah pribadi yang
bertrasenden dengan lingkungannya. Dimana individu tersebut mampu membantu lingkungannya,
hingga tercipta lingkungan yang sesuai dengan tujuan bersama.
3. Kurangnya
tingkat kemandirian mengakibatkan suatu individu menyebabkan adanya hidup
konformistik tanpa pemahaman serta kompromistik dengan mengorbankan prinsip.
Salah satu contoh dari hal ini adalah mitos. Mitos merupakan suatu pemikiran
yang hanya berkembang di suatu masyarakat tertentu dan berkembang dari mulut ke
mulut. Pada dasarnya mitos merupakan suatu kepercayaan yang berasal turun
temurun. Hal ini sendiri merupakan petunjuk adanya ketidakjujuran berpikir
serta teindakan kemandirian yang masih rendah.
Demikianlah gejala-gejala yang
menjadi kendala utama untuk mempersiapakan peserta didik maupun remaja yang
tangguh dan mandiri dalam menghadapi kompleksitas dan tantangan yang akan
datang. Perubahan tata nilai kemandirian tidak dapat dianggap remeh karena
bagaimana pun juga kemandirian adalah syarat peningkatan kualitas sumber daya
manusia.
B.
Pengertian
Kemandirian
Kemandirian memiliki asal kata
“Diri” yang selanjutnya memiliki awalan “ke” dan akhiran “an” kemudian membentuk
satu kata benda yaitu kemandirian. Kemandirian itu sendiri berasal dari kata
mandiri. Mandiri adalah keadaan dimana kita dapat berdiri sendiri dan tidak
bergantung pada orang lain. Kemandirian meliputi perilaku yang mampu
berinisiatif, mampu mengatasi hambatan, atau masalah, mempunyai percaya diri
dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Maka, dapat
disimpulkan sementara bahwa kemandirian adalah kondisi dimana kita mempercayai
diri dan yakin akan kemampuan yang kita miliki.
Menurut Steinberg (1995) istilah
kemandirian disebut sebagai independence dan
autonomy yang disejajarkan secara
silih berganti (interchangeable)
sesuai dengan konsep istilah tersebut. Berdasarkan konsep independence, Steinberg menjelaskan bahwa anak yang sudah mencapai independence ia mampu menjalankan atau
melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain
terutama orang tua. contohnya, ketika anak ingin buang air kecil ia langsung
pergi ke toilet dan tidak merengek-rengek meminta dibantu membuka celana atau
minta dicarikan tempat untuk buang air kecil. Kemandirian yang mengarah kepada
konsep independence ini merupakan
bagian dari perkembangan autonomy selama masa remaja, hanya saja autonomy mencakup dimensi emosional,
sikap dan nilai.
Menurut Hanna Wijaya (1986), autonomy dan kemandirian adalah dua
konsep yang berbeda. Menurut Hanna Wijaya (1986) autonomy didefinisikan sebagai individu yang otonom, yaitu individu
yang mandiri, tidak mengandalkan bantuan orang lain yang kompeten dan bebas
bertindak. Sedangkan kemandirian merujuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan
diri untuk menyelesaikan persoalan tanpa bantuan khusus dari orang lain,
keengganan untuk di kontrol orang lain, dapat melakukan sendiri kegiatan dan
menyelesaikan sendiri masalahnya.
Menurut Lerner (1976) konsep
kemandirian (autonomy) mencakup
kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung terhadap orang lain, tidak
terpengaruh oleh lingkungan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri. Konsep
kemandirian ini hampir senada dengan yang diajukan Watson dan Lindgren (1973)
yang menyatakan bahwa kemandirian (autonomy)
oalah kebebasan untuk mengambil inisiatif mengatasi hambatan, gigih dalam
usaha, dan melakukan sendiri segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Dengan begitu dapat disimpulkan
bahwa kemandirian adalah kemampuan untuk menguasai, mengatur, atau mengelola
diri sendiri. Remaja yang memiliki kemandirian ditandai oleh kemampuannya untuk
tidak tergantung secara emosional terhadap orang lain terutama terhadap orang
tua, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan konsekuen terhadap keputusan
tersebut, serta kemampuan menggunakan (memiliki) seperangkat prinsip tentang
benar dan salah serta penting dan tidak penting.
- Tahapan Perkembangan Kemandirian
Kemandirian
semakin berkembang pada setiap masa perkembangan seiring pertambahan usia dan
pertambahan kemampuan. Perkembangan kemandirian tersebut diidentifikasikan pada
usia 0 – 2 tahun; usia 2 – 6 tahun; usia 6 – 12 tahun; usia 12 – 15 tahun dan
pada usia 15 – 18 tahun.
1. Usia
0 sampai 2 tahun. Sampai usia dua tahun, anak masih dalam tahap mengenal
lingkungannya, mengembangkan gerak-gerik fisik dan memulai proses berbicara.
Pada tahap ini anak masih sangat bergantung pada orang tua atau orang dewasa
lainnya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
2. Usia
2 sampai 6 tahun. Pada masa ini anak mulai belajar untuk menajdi manusia sosial
dan belajar bergaul.Mereka mengembangkan otonominya seiring dengan bertambahnya
berbagai kemampuan dan keterampilan seperti keterampilan berlari, memegang, melompat,
memasang dan berkata-kata.Pada masa ini pula anak mulai dikenalkan pada toilet
training, yaitu melatih anak dalam buang air kecil atau air besar.
3. Usia
6 sampai 12 tahun. Pada masa ini anak belajar untuk menjalankan kehidupan
sehari-harinya secara mandiri dan bertanggung jawab.Pada masa ini anak belajar
di jenjang sekolah dasar.Beban pelajaran merupakan tuntutan agar anak belajar
bertanggung jawab dan mandiri.
4. Usia
12 sampai 15 tahun. Pada usia ini anak menempuh pendidikan di tingkat menengah
pertama (SMP). Masa ini merupakan masa remaja awal di mana mereka sedang
mengembangkan jati diri dan melalui proses pencarian identitas diri. Sehubungan
dengan itu pula rasa tanggung jawab dan kemandirian mengalami proses
pertumbuhan.
5. Usia
15 sampai 18 tahun. Pada usia ini anak sekolah di tingkat SMA. Mereka sedang
mempersiapkan diri menuju proses pendewasaan diri. Setelah melewati masa
pendidikan dasar dan menengahnya mereka akan melangkah menuju dunia Perguruan
Tinggi atau meniti karier, atau justru menikah. Banyak sekali pilihan bagi
mereka. Pada masa ini mereka diharapkan dapat membuat sendiri pilihan yang
sesuai baginya tanpa tergantung pada
orangtuanya. Pada masa ini orangtua hanya perlu mengarahkan dan membimbing anak
untuk mempersiapkan diri dalam meniti perjalanan menuju masa depan.
- Bentuk-bentuk
Kemandirian
Robert
Havighurst (1992) membedakan kemandirian atas tiga bentuk kemandirian, yaitu :
Aspek
intelektual, yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi.Anak percaya pada kemampuannya sendiri dalam memecahkan masalah,
memiliki inisiatif, bersikap kompeten, kreatif, dapat mengambil keputusan
sendiri dalam bentuk kemampuan memilih dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Aspek
sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak
tergantung pada aksi orang lain. Anak mampu secara aktif untuk berinteraksi
dengan lingkungan sosialnya. Di dalam berinteraksi ini anak mempunyai rasa
percaya diri sehingga mampu berpisah dari kelekatan dengan orang tua sehingga
anak akan merasa aman meskipun tidak ada orang tua disekitarnya.
Aspek
emosi, yaitu kemampuan mengontrol emosi sendiri dan tidak tergantungnya
kebutuhan emosi pada orang lain. Anak mampu mengelola emosinya dan mempunyai
kontrol diri yang baik.
Aspek
ekonomi, yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidak tergantungnya
kebutuhan ekonomi pada orang lain.
Maksudnya bukan berarti anak mampu untuk menghidupi dirinya sendiri
tetapi anak mampu secara sederhana untuk mengelola ekonominya sendiri.
Contohnya anak mampu untuk mengelola uang saku yang diberikan orang tua, mampu
memutuskan apa yang sebaiknya dibeli dan tidak.
- Ciri-Ciri
Kemandirian
1. Percaya
diri; ini berarti dia percaya bahwa dia mampu mewujudkan keinginannya dengan
usaha dan kekuatan yang dimilikinya. Percaya diri inilah yang menjadi sumber
kemandirian.
2. Mampu
berinisiatif; orang yang mandiri mampu berinisiatif yaitu bertindak dengan
keinginannya sendiri tanpa harus menunggu instruksi orang lain.
3. Mampu
mengatasi masalah atau hambatan; sebagai orang yang mampu berinisiatif orang
yang mandiri mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dengan kekuatan dan
kemampuan yang dimilikinya.
4. Mampu
mengerjakan tugas pribadi; berarti dia dapat mengerjakan tugas-tuigas
pribadinya tanpa bantuan orang lain.
5. Mampu
mempertahankan prinsip yang dimiliki dan diyakini.
6. Mampu
mengambil keputusan; ketika dihadapkan pada bergagai pilihan dia dapat
menentukan pilihan yang sesuai bagi dirinya sendiri tanpa tergantung pada orang
lain.
7. Hemat;
dia dapat menggunakan uang yang dimiliki sesuai dengan kebutuhannya.
8. Mampu
melaksanakan transaksi ekonomi; orang yang mandiri mengetahui cara melakukan
transaksi ekonomi dan dapat melakukannya.
9. Mempunyai
perencanaan karier di masa depan, termasuk mempunyai cita-cita profesi; yaitu
mempunyai pilihan profesi/cita-cita yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
10. Bebas
secara emosi dari orang tua; tidak tergantung pada orang tua atau orang dewasa
lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhan emosi.
11. Mempunyai
kehendak yang kuat; orang yang mandiri mempunyai tekad yang kuat dan tidak
mudah berputus asa dalam upaya mewujudkan keinginannya.
12. Puas
dengan keputusan sendiri; orang yang mandiri mempertimbangkan manfaat maupun
kerugian setiap keputusan yang diambilnya dan dia merasa puas dengan
keputusannya sendiri.
13. Menghargai
waktu; orang yang mandiri akan selalu memanfaatkan waktu dengan baik, mengisi
waktunya dengan kegiatan yang berguna.
14. Bertanggung
jawab; orang yang mandiri akan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya.
15. Mampu
menghindari pengaruh negatif pergaulan.
16. Mampu
menerima kritik.
17. Mampu
menerima perbedaan pendapat.
18. Mempunyai
hubungan baik dengan orang lain.
- Tingkatan dan
Karakteristik Kemandirian
Sebagai
suatu dimensi psikologis yang kompleks, kemandirian dalam perkembangannya
memiliki tingkatan-tingkatan. Perkembangan kemandirian seseorang juga
berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkatan perkembangan kemandirian
tersebut. Lovinger mengemukakan tingkatan kemandirian beserta ciri-cirinya
sebagai berikut:
1. Tingkatan
pertama, adalah tingkat impulsif dan melindungi diri. Ciri-ciri tingkatan ini
adalah:
a. Peduli
terhadap control dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan
orang lain.
b. Mengikuti
aturan secara oportunistik dan hedonistik;
c. Berpikir
tidak logis dan tertegun pada cara berpikir tertentu (stereotype ).
d. Cenderung
melihat kehidupan sebagai zero-sum game.
e. Cenderung
menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.
2. Tingkatan
kedua, adalah tingkat konformistik. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a. Peduli
terhadap penampilan diri dan penerimaan social.
b. Cenderung
berpikir stereotype dan klise.
c. Peduli
akan konformitas terhadap aturan ekternal.
d. Bertindak
dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian
e. Menyamakan
diri dalam ekpresi emosi dan kurangnya introspeksi
f. Perbedaan
kelompok didasarkan atas cirri-ciri eksternal
g. Takut
tidak diterima kelompok
h. Tidak
sensitif terhadap keindividualan
i.
Merasa berdosa
jika melanggar.
3. Tingkatan
ketiga, adalah tingkat sadar diri. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a. Mampu
berpikir alternative.
b. Melihat
harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi
c. Peduli
untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada
d. Menekankan
pada pentingnya pemecahan masalah
e. Memikirkan
cara hidup
f. Penyesuaian
terhadap situasi dan peranan
4. Tingkatan
keempat, adalah tingkat saksama (conscientious). Ciri-ciri tingkatan ini
adalah:
a. Bertindak
atas dasar nilai-nilai internal.
b. Mampu
melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan
c. Mampu
melihat keragaman emosi,motif, dan perspektif diri sendiri mau-pun orang lain.
d. Sadar
akan tanggung jawab.
e. Mampu
melakukan kritik dan penilaian diri.
f. Peduli
akan hubungan mutualistik.
g. Memiliki
tujuan jangka panjang.
h. Cenderung
melihat peristiwa dalam konteks social.
i.
Berpikir lebih
kompleks dan atas dasar pola analitis.
5. Tingkatan
kelima, adalah tingkat individualistis. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a. Peningkatan
kesadaran individualitas.
b. Kesadaran
akan konflik emosional antara kemandirian dengan keter-gantungan.
c. Menjadi
lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
d. Mengenal
eksistensi perbedaan individual.
e. Mampu
bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan.
f. membedakan
kehidupan internal dengan kehidupan luar dirinya.
g. Mengenal
kompleksitas diri.
h. Peduli
akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.
6. Tingkatan
keenam, adalah tingkat mandiri. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a. Memiliki
pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan.
b. Cenderung
besikap realistik dan objektif terhadap diri sendiri maupun orang lain.
c. Peduli
terhadap pemahaman abstrak, seperti keadilan social.
d. Mampu
mengintregrasikan nilai-nilai yang bertentangan.
e. Toleran
terhadap ambiguitas.
f. Peduli
akan pemenuhan diri ( self-fulfilment ).
g. Ada
keberanian untuk menyelesaikan konflik internal.
h. Responsif
terhadap kemandirian orang lain.
i.
Sadar akan
adanya saling ketergantungan dengan orang lain.
j.
Mampu mengekpresikan
perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.
- Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kemandirian
Sebagaimana aspek-aspek psikologis lainnya, maka
kemandirian juga bukanlah semata-semata merupakan pembawaan yang melekat pada
individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi
yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimilikinya sejak
lahir sebagai keturunan dari orang tuannya. Ada sejumlah faktor yang
mempengaruhi perkembangan kemandirian,yaitu:
1. Gen
atau keturunan orang tua.
Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi
seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, faktor
keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa
sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya,
melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik
anaknya.
2. Umur
Anak mulai menampakkan perilaku mandiri pada sekitar
usia dua sampai tiga tahun. Kemandirian pada usia kanak-kanak ditandai dengan adanya
kemampuan anak untuk dapat makan sendiri, berpakaian sendiri dan ke kamar mandi
sendiri. Anak nantinya akan tumbuh menjadi remaja dimana ketika usia remaja
anak berusaha untuk lepas dari pengawasan orang tua dan mulai belajar
memutuskan sendiri apa yang baik untuknya. Jadi dengan bertambahnya umur maka
seseorang akan semakin tidak tergantung kepada orang lain dan mampu secara
mandiri menentukan arah hidupnya sendiri.
3. Jenis
kelamin
Perbedaan perlakuan yang diberikan oleh orang tua
menyebabkan perbedaan terbentuknya kemandirian antara remaja putra dengan
remaja putri.Perbedaan kemandirian remaja putra dan putri juga disebabkan
karena adanya perbedaan stereotipe bahwa remaja putra dan remaja putri memiliki
peranan yang berbeda di masyarakat.Menurut penelitan Kimmel (dalam Soetjipto,
1989) menunjukkan bahwa masyarakat menganggap remaja putri terlihat kurang
mandiri daripada remaja putra karena remaja putri lebih dipandang lebih
bersikap kurang percaya diri, tidak ambisius dan sangat tergantung.Berbeda dengan
remaja putra yang dipandang lebih dominan, aktif, lebih percaya diri dan
ambisius.Jadi perbedaan perlakuan dan stereotipe antara peran pria dan wanita
di dalam kehidupan bermasyarakat membuat perbedaan dalam perkembangan
kemandirian antara anak laki-laki dan perempuan.
4. Pola
asuh orang tua.
Cara orang tua yang mengasuh atau
mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak. Orang tua yang
terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata “jangan“ kepada anak tanpa
disertai penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian
anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi
keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak. Demikian juga,
orang tua yang cenderung sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan
yang lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan
kemandirian anak.
5.
Sistem pendidikan di sekolah.
Proses pendidikan di sekolah yang tidak
mengem-bangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi
tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Demikian juga,
proses pendidikan yang banyak menekankan pentingnya pemberian sanksi atau
hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian anak.
Sebaliknya, proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya penghargaan
terhadap potensi anak, pemberian reward, dam penciptaan kompetisi positif akan
memperlancar perkembangan kemandirian anak.
6. Sistem
kehidupan di masyarakat.
Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan
pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta
kurang menghargai manifestasi potensi anak dalam kegiatan produtif dapat
menghambat kelancaran perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, lingkungan
masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi anak dalam bentuk berba-gai
kegiatan, dan tidak terlalu hierarkis akan merangsang dan mendorong
perkembangan kemandirian anak.
- Upaya
Pengembangan Kemandirian Peserta Didik dan Implikasinya Bagi Pendidikan
1. Mengembangkan
proses belajar mengajar yang demokratis, yang memungkinkan anak merasa dihargai.
Ini dapat diwujudkan lewat saling menghargai antar anggota keluarga, dan
melibatkan remaja dalam pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah
keluarga.
2. Mendorong
anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai
kegiatan sekolah. Dalam hal ini sekolah dapat memfasilitasi lewat pemilihan
ketua OSIS dan memfasilatasi remaja untukikut organisasi yang tentunya dapat
mendukung perkembangan kemandiriannya.
3. Memberi
kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan, mendorong rasa ingin
tahu mereka. Dapat terwujud lewat adanya jaminan rasa aman dan kebebasan untuk
mengeksplorasi lingkungan serta adanya aturan yang cenderung tidak mengancam
bila ditaati.
4. Penerimaan
positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan anak
yang satu dengan yang lain.contoh dalam hal ini adalah menerima segala
kekurangan dan kelebihan dari remaja, menghargai setiap ekspresi mereka yang
sebenarnya hasilnya kurang memuaskan. Serata tidak mudah mencela hasil karyanya
itu.
5. Menjalin
hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak. Ini dapat terwujud dalam hal
membangun interaksi secara akrab tetapi tetap saling menghargai, menambah
frekuensi interaksi dan tidak bersikap dingin terhadap remaja serta membangun
suasana humor dan komunikasi ringan dengan remaja.
DAFTAR PUSAKA
1.
Asorori, M.2008.Perkembangan Peserta Didik.Pontianak:Bhinneka
Media
- http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-kemandirian-peserta-didik.html
- http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/197102191998021-NANDANG_BUDIMAN/PERKEMBANGAN_KEMANDIRIAN.pdf


0 komentar:
Posting Komentar